Mengapa Kita Harus Membiarkan dan Kalah Dengan Ego Yang Menguasai Hati Kita

banner 468x60

Terus terang, sampai kemarin saya masih mendongkol. Cenderung kesal, bahkan marah.

Seorang teman lama,  yang dulu pernah saya bantu beri modal usaha dan kini kabarnya telah jadi jutawan, menyambut dingin jabat tangan saya, saat tak sengaja bertemu di sebuah mal di Jakarta Barat.

Sikapnya terasa angkuh, seolah saya bukan siapa-siapa. Bicaranya kikir kata, seperlunya, dan agak ketus. Sepertinya ingin segera menyudahi perjumpaan.

Jangan-jangan dia kira saya mau mengutang, atau malah minta uang. Apa tak ingat, dulu makan pagi-siang-malam saya yang bayari? Termasuk rokok dan nonton bioskop, saya traktir.

Bahkan modal yang saya pinjamkan belum ia kembalikan seluruhnya.

Selama seminggu tak sekejap pun ia lepas dari pikiran. Sakit rasanya hati ini. Saya ceritakan kejadian itu pada setiap teman. Celaka, saya sempat menyumpahi agar usahanya bangkrut. Biar tahu rasa.

Sebagian teman-teman merasa aneh, kok saya berubah jadi amat sensitif. Seorang sahabat coba saya hapus dari memori. Apa memang saya layak berbuat seperti itu? Tidakkah saya terlalu egois?

Ego? Ya, ternyata saya telah membiarkannya “bermain” tanpa kendali. Ego beraksi dengan “menyamakan” dan “membedakan” saya dengan sesuatu di luar diri saya. Ego menyamakan saya dengan emosi saya.

(Visited 111 times, 1 visits today)
Film Bioskop Online
author
Author: