Suami Ini Sombong Ke IStri Karena Pendidikannya, Ojo Dumeh …. !!!

Alkisah ada seorang pria bernama Jon, seseorang pria lulusan sebuah universitas ternama, yang hidup di sebuah rumah yang sederhana bersama dengan istrinya, Lea. Kehidupan Jon selesai kuliah sangat sederhana serta penuh kemalasan. Keluarga kecil ini hidup dari uang yang didapat dengan susah payah oleh Lea.

“Aku ini lulusan perguruan tinggi. Mana bisa kerja asal­asalan. Kamu ini cuma cewek, ngerti apa?” Kata Jon waktu istrinya meminta Jon untuk juga bekerja.

“Jon, kalau gitu, aku kan selalu pulang malam habis kerja, kamu masak nasi ya dirumah.” Kata Lea waktu dia serta Jon mengobrol di depan TV yang menyala.

“Aku ini cowok yang akan punya kerjaan gede! Soal masak nasi sama beres­beres rumah, itu urusan kalian para cewek.” Katanya sambil selalu melihat acara TV yang ada di depannya. Lea cuma bisa masuk ke kamar dengan sedih.

Namun kata­kata Jon ini tidak bikin Lea menyerah. Esok harinya, dia bertanya lagi pada Jon, “Jika gitu, kamu pagi­-pagi ikut aku saja jagalah kiosku yang kecil itu. Saat ini pengunjung mulai banyak, aku sulit jika kerja sendirian. Jika kita suami istri sama­sama usahakan tempat itu serta usahanya jadi besar, kan lumayan juga. “Mulai sejak awal, Lea sudah berpikir untuk meminta Jon menemaninya berjualan sop buntut yang tengah dia lakoni. Jon juga sudah lama tidak memperoleh pekerjaan, dia fikir tak ada salahnya juga bila Jon membantunya membesarkan usaha berjualannya.”

Namun tidak disangka Jon membalikkan kepala dari game yang sedang dia mainkan di computer serta berkata, ” Halah. Yang kamu punya itu kan cuma kios kecil. Tidak mungkin bisa gede! Lagian aku ini orang terpelajar!”

“Masa susah­-susah belajar cuma jadi pedagang?” Jon lalu menutup mulutnya, membalikkan kepalanya ke layar computer, serta melanjutkan permainannya. Lea cuma dapat melanjutkan perjuangannya sendirian.

Bukan sekedar berjualan, sepulang kerja dia juga masih harus membereskan rumah yang berantakan. Sedang suaminya, Jon, cuma bisa bermain game setiap hari, nonton TV, atau keluar dengan kakaknya untuk minum bir serta berjudi.

Suatu hari, waktu Jon mendengar ada orang yang menggosipkan soal sop bun`tut Lea yang mulai diincar oleh perusahaan besar serta mereknya ingin dibeli, dia kaget. Banyak juga isu yang mengedar bila Lea mungkin bisa jadi salah 1 manager dari perusahaan besar tersebut . Jon kemudian langsung pulang serta mencari istrinya.

“Lea, tuturnya sop buntut anda mulai diincar perusahaan besar, serta kamu bisa jadi manager di sana?”

” Iya, kenapa?” Jawabnya sambil mempersiapkan makan malam sambil membelakangi Jon.

“Eh itu perusahaan besar yang aku bahkan juga pernah denger. Kamu bisa tidak rekomendasiin aku kedalam?”

“Kamu punya pengalaman dibagian produksi?”

“Tidak ada.”

“Kamu punya pengalaman jadi pemimpin tim?”

“Hmm… Kayaknya tidak ada…”

“Kamu punya pengalaman kerja didalam kelompok?”

“Tidak ada…”

“Terus kamu mau kantor kita harepin apa dari kamu?”

“Tapi aku lulusan universitas. Seenggaknya aku pernah belajar di sekolah dulu.”

Tidak lama sesudah peristiwa ini, Jon memperoleh secarik surat yang di dalamnya bertuliskan tulisan tangan istrinya bersama dengan selembar surat permintaan cerai.

Ini yang tertulis di dalamnya :

Kamu bisa masak nasi nggak? Nggak.
Kamu bisa bersihin rumah? Nggak.
Kamu pernah ngalamin kesulitan yang aku alami selama ini? Nggak.
Apa kamu pernah berusaha keras buat menjaga keluarga? Nggak.
Aku ini perempuan. Aku ini istrimu. Aku kerja susah­susah, kerja capekcapek di luar, kamu cuma bisa main game serta menghabiskan uang untuk minum bir.
Aku udah kerja susah­susah, namun pulang masih harus beresin rumah.
Dimatamu semuanya hal yang perlu kulakukan serta kewajibanku seorang.
Jon, pekerjaan yang baik juga hilang lantaran kamu tidak mau berusaha.
Perasaanku juga sudah dingin seiring waktu.
Sekarang, karena kerja juga kewajibanku, cari uang untuk keluarga juga kewajibanku, bersihin rumah juga kewajibanku, kamu pergi saja dari hidupku karena keluargaku nggak perlu seorang pria yang bahkan nggak bisa jadi suami.

Kesempatan itu terkadang tidak datang 2x. Namun kesempatan itu terkadang tidak datang tanpa disertai usaha yang cukup. Ingin punya mimpi yang besar, boleh. Ingin punya pekerjaan yang baik, tentu tidak salah. Ingin mimpi serta cita­citamu tercapai, tentu itu hal yang baik. Namun jangan lupa, setiap hal yang besar dimulai dari hal yang kecil.

Setiap kesempatan datang dari usaha serta bukan hanya kata-­kata belaka.

(Visited 124 times, 1 visits today)

Leave a reply "Suami Ini Sombong Ke IStri Karena Pendidikannya, Ojo Dumeh …. !!!"