3 Isi Bai’at Sahabat Kepada Nabi

No comment 38 views
banner 468x60

Dalam beberapa kesempatan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta bai’at kepada para sahabatnya dengan isi untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya serta senantiasa beramal shalih. Di antara isi bai’at tersebut sebagaimana diceritakan oleh sahabat Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

بَايَعْتُ رَسُوْلَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Aku berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk senantiasa mendirikan shalat, menunaikan zakat dan memberi nasihat kepada setiap muslim (HR Al-Bukhari no. 57 dan Muslim no. 56)

Ada 3 poin penting yang menjadi isi bai’at tersebut:

[1]. Menegakkan shalat, perkara ini untuk menjaga hubungan seorang hamba dengan Rabbnya.

[2]. Menunaikan zakat, perkara ini untuk menjaga hubungan dengan Allah karena Dialah yang mewajibkan dikeluarkannya zakat, sekaligus menjaga hubungan dengan sesama manusia.

[3]. Memberi nasihat kepada setiap muslim

Ketiga hal ini dijadikan isi bai’at sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentunya karena ketiga hal tersebut sangat penting. Artikel kali ini, ingin sedikit membahas ketiga hal tersebut secara umum.

Pertama, Menegakkan Shalat

Menegakkan shalat terutama shalat wajib adalah hal yang sangat penting dalam agama kita, bahkan shalat wajib menjadi rukun yang ke-2 dalam rukun Islam. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah : 5)

Syaikh Ibnu Utsamin menjelaskan, “Makna menegakkan shalat yaitu seseorang senantiasa istiqomah mengerjakan shalat sesuai dengan yang diperintahkan. Seseorang yang menegakkan shalat kan menjaga shalatnya dikerjakan sesuai waktunya, memenuhi rukun-rukun, syarat-syarat, dan kewajiban-kewajiban dalam shalat serta menyempurnakannya dengan mengerjakan sunnah-sunnah dalam shalat” (Syarah Riyadhus Shalihin 1/619).

Termasuk dalam menegakkan shalat seseorang khusyu’ dalam shalat, menjaga shalat jamaah di masjid bagi laki-laki, dan juga mengenakan pakaian yang baik ketika shalat.

Kedua, Menunaikan Zakat

Syaih Ibnu Utsaimin berkata, “Menunaikan zakat yaitu memberikannya kepada orang-orang yang berhak” (Syarah Riyadhus Shalihin 1/619).

Zakat dibayarkan oleh orang-orang kaya untuk orang-orang yang membutuhkan. Siapa saja yang wajib menunaikan zakat? Siapa saja yang berhak menerima zakat? Harta jenis apa yang wajib dikeluarkan zakatnya? Islam telah mengaturnya dengan detail dan dapat kita baca di literatur fikih Islam.

Syariat zakat ini bahkan sangat ditekankan oleh Islam dan masuk dalam salah satu dari 5 rukun Islam. Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq di masanya pernah memerangi kaum yang menolak membayar zakat sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Zakat juga bisa menjadi perekat ukhuwah antar umat Islam. Ketika orang yang membayar zakat menyerahkannya kepada orang yang membutuhkan kemudian orang yang membutuhkan ini merasa terbantu atas zakat yang diberikan, maka akan timbul saling mencintai antara kaum muslimin antara si kaya dan si miskin.

Ketiga, Memberi Nasihat Kepada Setiap Muslim

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Nasihat maknanya seseorang menginginkan kebaikan untuk saudaranya, mengajak, mengingatkan, memotivasi seseorang untuk melakukan kebaikan.” (Syarah Riyadhus Shalihin 1/609)

Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. (HR. Al-Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)

Yang perlu diperhatikan (sebagaimana makna nasihat yang disampaikan Syaikh Ibnu Utsaimin) adalah niat dalam memberi nasihat yaitu agar saudara kita menjadi baik, bukan untuk menjatuhkan atau merendahkannya. Sehingga perlu dipertimbangkan metode nasihat yang paling tepat agar tujuan memperbaiki saudara kita tercapai. Terkait dengan ini, maka ketika kita ingin menasihati seseorang di depan orang banyak hendaknya dipertimbangkan dengan matang apakah itu cara yang terbaik atau tidak. Karena kebanyakan orang tidak senang jika dinasihati di depan orang banyak bahkan bisa menganggapnya sebagai upaya menjatuhkan dirinya. Sehingga yang timbul bukannya perbaikan akan tetapi mungkin saja malah menumbuhkan benih-benih permusuhan.

Misalnya kita mendapati saudara kita sedang berbicara di depan umum, kemudian ada yang keliru dalam pembicaraannya. Maka sebisa mungkin kita coba menasihatinya setelah dia turun dari podium dan selesai berbicara sehingga dia pun merasa nyaman ketika diberikan nasihat. Kalau kita langsung interupsi di muka umum, mungkin bisa jadi dia tidak menerima dan menganggap kita sedang mencoba menjatuhkan wibawanya.

Demikianlah isi tiga point penting baiat para sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga point ini menjadi nasihat bagi kita semua untuk kita tunaikan dan benar-benar kita perhatikan sehingga baiklah keislaman kita. Semoga bermanfaat.

 

Wabillahi taufiq.

Ditulis Oleh:
Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله

(Visited 21 times, 1 visits today)
Film Bioskop Online
author
Author: