al-Fattah, Yang Maha Pemberi Keputusan

No comment 36 views
banner 468x60

Salah satu nama Alloh subhanahu wata’ala Yang Maha indah ialah al-Fattah (Yang Maha Pemberi Keputusan). Dialah satu-satunya Dzat Yang akan memberikan keputusan atas seluruh hamba-Nya.

Hal ini karena Alloh subhanahu wata’ala lah satu-satunya Penguasa mutlak di alam semesta ini. Maka, hanya Dia-lah Yang Maha memutuskan semua perkara dan sengketa yang terjadi di antara makhluk-Nya.

Sebagaimana kita ketahui  bahwa sebagian besar manusia berselisih dan berdebat tentang kebenaran. Sebagian mereka menerima kebenaran sedangkan mayoritas menolaknya. Kelak Alloh subhanahu wata’ala akan memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang berhak mendapat surga dan siapa yang berhak mendapat neraka. Hal ini ditegaskan oleh Alloh subhanahu wata’ala dalam firman-Nya:

“Katakanlah, ‘Alloh akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia akan memberi keputusan di antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Dzat Yang Maha memberi keputusan lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Saba [34]:26)

Alloh subhanahu wata’a’la juga berfiman tentang persengketaan antara orang Mukmin dan kafir mengenai Alloh:

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Robb mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.”
(QS. Al-Hajj [22]: 19)

Dua golongan yang dimaksud dalam ayat ini adalah golongan orang-orang kafir dan golongan orang-orang Mukmin. Pada hari kiamat kelak, Alloh subhanahu wata’ala akan memutuskan antara hamba-hamba-Nya dengan adil.

Diiringkannya Nama al-Fattah  dengan al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui)

Di penghujung ayat di atas, Alloh subhanahu wata’ala menutup ayat tersebut dengan kata-kata-Nya, “Dan Dia-lah Yang Maha pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.”  (QS. Saba’ [34]: 26)

Diiringkannya al-Fattah dengan al-‘Alim adalah untuk menunjukkan bahwa Alloh subhanahu wata’ala memberi keputusan berdasarkan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sesuatupun. Dia Maha mengetahui apa yang nampak dan apa yang tersembunyi, Dia Maha mengetahui hakikat segala sesuatu.

Oleh karena itu segala keputusan-Nya benar-benar sangat adil, tepat, bijak, dan sama sekali tidak mengandug unsur kekeliruan atau kezholiman.

Alloh subhanahu wata’ala Memutuskan Antar Orang-orang Mukmin dan Kafir

Sepanjang sejarah manusia, telah terjadi permusuhan dan perdebatan antara para Nabi dan kaumnya yang kafir. Perselisihan antara kaum yang beriman dan kaum yang kafir. Alloh subhanahu wata’ala akan memberikan keputusan-Nya terhadap mereka semua. Berikut ini beberapa contoh dari keputusan Alloh subhanahu wata’ala Yang Maha Adil:

Kaum Nabi syu’aib pernah berkata kepada Nabi mereka:

“Pemuka-pemuka dan kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu wahai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kalau kamu mau kembali kepada agama kami.” Berkata Syu’aib: “Dan apakah (kalian akan mengusir kami), kendatipun kami tidak suka?”
(QS. Al-A’rof [7]: 88)

Ini jelas suatu tindakan zholim dan semena-mena, mengusir orang-orang yang beriman tanpa alasan yang hak. Mendengar ancaman itu, Nabi Syu’aib  sedikitpun tidak gentar atau takut, karena Beliau sangat yakin bahwa tidak akan ada suatu keburukan yang menimpanya kecuali dengan izin Alloh subhanahu wata’ala. Maka Beliau menghadapkan dirinya kepada Alloh subhanahu wata’ala seraya berdoa:

Ya Robb Kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
(QS. Al-A’roof [7]: 89)

Maksudnya, “Ya Alloh, jelaskan dan berilah keputusan-Mu antara kami dan orang-orang yang hendak memaksa kami untuk mengikuti kekafiran mereka. Karena jika kami tidak mengikuti mereka, mereka akan mengusir kami dari kampung halaman kami dengan semena-mena.

Makna Lain Dari Al-Fattah

Selain bermakna Yang Maha memberi keputusan, al-Fattah juga berarti Yang Maha Membuka pintu-pintu rezeki dan rahmat bagi hamba-hamba-Nya, juga membuka jalan keluar bagi semua permasalahan mereka serta membuka mata dan hati mereka sehingga melihat kebenaran. Inilah yang dimaksud oleh al-Khoththobi dengan al-Fathur Robbani (pembukaan dari Alloh).

Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Alloh subhanahu wata’ala sendiri:

“Apa saja yang Alloh anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, Maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Alloh maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Fathir [35]: 2)

Salah satu rahmat Alloh subhanahu wata’ala yang Dia bukakan kepada hamba-hamba-Nya ialah keimanan di dalam hati dan petunjuk serta taufik-Nya untuk melakukan kebaikan.

Bentuk rahmat itu bisa bermacam-macam, terkadang dengan menganuge-rahkan keimanan dan semangat untuk taat kepada Alloh subhanahu wata’ala serta melakukan amal-amal sholih, kemudian Dia menarik hati hamba tersebut agar menjalankan semua itu degan mudah dan tanpa kendala.

Bentuk yang lain adalah, dengan dibukakannya pintu ilmu kepada orang-orang yang Dia pilih. Yakni, ilmu untuk memahami kitab Alloh  dan sunnah Rosululloh , yang keduanya merupakan pelita dan petunjuk kepada kebena-ran. Sehingga hamba yang diberi ilmu tersebut menemukan kebenaran yang diperselisihkan oleh banyak orang.

Alloh subhanahu wata’ala befirman:

“Maka Alloh membimbing orang-orang yang beriman kepada kebenaran yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Alloh selalu memberi petun-juk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”
(QS. Al-Baqoroh [2]: 213)

Bentuk yang lain adalah jalan keluar dari permasalahan yang sedang merundungya. Seorang yang bertakwa kepada Alloh  dan berpegang teguh kepada dien-Nya, jika dia menemukan suatu kesulitan maka Alloh subhanahu wata’ala akan membukakan jalan keluar baginya.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

“Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. “
(QS. Ath-Tholaaq [65]: 2-3)

Perhatikanlah, bagaimana Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam pernah menceritakan kepada kita tentang tiga orang yang terperangkap dalam sebuah gua. Kemudian pintu gua tersebut tertutup oleh sebongkah batu besar. Bagaimana Alloh subhanahu wata’ala menyelamatkan mereka semua melalui tawassul mereka dengan amal shalih yang mereka lakukan dengan ikhlas. Alloh subhanahu wata’ala telah membukakan jalan keluar kepada mereka dengan kekuasaan-Nya, sebagai rahmat bagi ketiga hamba tersebut. Kalau bukan karena jalan keluar yang Alloh subhanahu wata’ala berikan kepada mereka, niscaya gua tersebut menjadi kuburan bagi mereka. Akan tetapi Alloh subhanahu wata’ala yang Maha Pembuka telah menolong mereka. Begitu pulalah Alloh subhanahu wata’ala akan menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang sholih dan beriman.

Hikmah Beriman Kepada Nama Alloh al-Fattah

Seorang Muslim yang meyakini bahwa Alloh subhanahu wata’ala adalah al-Fattah (Maha Pemberi Keputusan) maka akan bersemi dalam hatinya beberapa sikap terpuji berikut:

  1. Tidak beputus asa kerena dahsyatnya kekuatan-kekuatan kafir yang memusuhi orang-orang Mukmin. Seberapa hebat kekuatan yang mereka miliki tetap tidak akan mampu merubah keputusan Alloh yang akan selalu berpihak kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:“Kemudian Kami selamatkan Rosul-rosul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban Kami untuk menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 103)
  2. Meyakini keadilan Alloh subhanahu wata’ala yang sangat sempurna.
  3. Saat ini kita melihat makar besar yang dirancang dan dijalankan oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya untuk menaklukkan Islam dan menegakkan kebatilan. Makar mereka itu demikian hebatnya -menurut pandangan manusia- hingga seolah-olah gunung pun akan hancur luluh karena kecanggihan makar mereka. Akan tetapi, Alloh Yang Maha Pemberi Keputusan tidaklah lalai atau lengah akan makar mereka.
  4. Al-Fattah juga bermakna Yang membukakan pintu-pintu rezeki dan rahmat bagi hamba-hambanya. Seorang yang meyakini hal ini, niscaya akan berharap besar kepada Alloh agar Alloh membukakan baginya pintu rahmat-Nya. Dan sebaliknya, ketika rasa harapnya kepada Alloh subhanahu wata’ala menguat, maka keber-gantungannya kepada manusia pun menjadi lemah dan kecil. Sehingga, terwujudlah dalam hatinya sifat tawakkal (bersandar diri) kepada Alloh subhanahu wata’ala. Dengan bersandar kepada Alloh subhanahu wata’ala, maka Dia akan mencukupi semua kebutuhannya. Hal ini sebagaimana janji Alloh subhanahu wata’ala:“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Tholaaq [65]: 3)
(Visited 16 times, 1 visits today)
Film Bioskop Online
author
Author: