Azab Kubur Karena Maksiat Di Dunia dan Tanda Tanda Pada Jasadnya Part 2

Tidak Boleh Memastikan Azab Kubur Karena Maksiat Di Dunia

Berdasarkan hal ini semua, menurut hemat kami; kita tidak boleh memastikan bahwa mayit si fulan terkena azab kubur karena maksiat yang dilakukannya di dunia, hanya karena kita melihat tanda-tanda yang ada pada mayit tersebut, diantara alasannya adalah :

1. Kita tidak mengetahui dengan pasti apakah fenomena yang tampak pada jasad si mayit adalah benar-benar azab kubur atau ia hanya fenomena alamiyah biasa.

Bisa jadi ia terlihat hangus karena terkena gas bumi atau api bumi atau apalah namanya yang sering kita saksikan beritanya ada api keluar dari tanah.

2. Bisa jadi si mayit ini telah bertaubat di akhir-akhir hidupnya dan kita tidak mengetahui itu. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits tentang kisah pelaku maksiat yang bertaubat di saat-saat terakhir kehidupannya.

3. Diantara prinsip pokok sunnah adalah kita tidak boleh memastikan bahwa si fulan masuk neraka meski sebanyak apapun maksiatnya. Dan tidak memastikan si fulan masuk syurga sebanyak apapun amal shalihnya.

Karena status seseorang di syurga atau neraka, termasuk siksa kubur adalah hal ghaib yang menjadi hak khusus bagi Allah ta’ala. Imam Ibnu Abil Izz Al-hanafi menyatakan :

( ولا ننزل أحدا منهم جنة ولا نارا ) . ش : يريد : أنا لا نقول عن أحد معين من أهل القبلة إنه من أهل الجنة أو من أهل النار ، إلا من أخبر الصادق صلى الله عليه وسلم

“*Dan kita tidak boleh memvonis seseorang dari kaum muslimin sebagai ahli syurga atau ahli neraka.* Beliau (Ath-Thahawi) menginginkan bahwa kita tidak boleh memastikan bahwa seseorang ia adalah penghuni syurga atau penghuni neraka, kecuali orang yang telah dikabarkan langsung oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.”

(Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah : 326).

Demikian pula kita tidak boleh memastikan bahwa si fulan diazab di dalam kuburnya kecuali orang-orang yang dinyatakan langsung oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

4. Atau bisa jadi pula mayit tadi memang benar di azab akan tetapi bukan karena sebab maksiat yang dilakukannya. Akan tetapi karena sebab dosa yang lebih besar dari itu berupa kesyirikan.

5. Seringkali cerita-cerita ghaib atau yang berbau horor itu diceritakan dengan secara berlebihan dan seringnya yang bercerita adalah orang yang tidak melihat langsung kejadian.

6. Jika cerita tersebut benar, namun jika ternyata tidak benar, itu artinya kita telah merobek-robek kehormatan seorang Muslim meski ia telah meinggal dunia.

7. Pada beberapa waktu lalu kami menyempatkan diri bertanya kepada beberapa ulama tentang hal ini dan berikut redaksi pertanyaan dan jawaban dari Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari :

السؤال :

باسم الله

شيخنا الكريم عندنا سؤال : هل يجوز لنا أن نجزم على أن شخصا معينا يعذب في القبر بدليل أن جثته محترق وذلك يعرف بعد إخراجه من القبر وكان يأكل الربا في حياته؟

أبو الأسود الأندونيسي

بهذه الصورة..لا

“Bismillah Syaikh kami ini kami ada pertanyaan ; Apakah boleh bagi kita untuk memastikan bahwa seseorang itu tertimpa azab kubur dengan alasan bahwa jasadnya hangus terbakar. Itu diketahui setelah jasadnya dikeluarkan dari liang kubur. Dan mayat ini dahulunya adalah seorang pemakan riba ?

Jawaban : Jika bentuknya seperti ini, maka tidak boleh (memastikan.”

Pertanyaan serupa juga kami ajukan kepada Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al-Jazairi dan beliau menjawab :

لا يعلم الغيب إلا الله

“Tak ada yang mengetahui keghaiban melainkan hanya Allah.”

Maka idealnya kita mencukupkan diri menyemai rasa takut di dalam hati kita terhadap Allah dari melakukan kemaksiatan dengan membaca, mendengar, mentadabburi ayat-ayat ancaman, serta hadits-hadits yang berisi larangan serta efek dosa yang akan diterima oleh seorang pelaku maksiat.

(Visited 38 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *