Bagaimanakan Hukum Menutup Telapak Kaki Ketika Sholat

banner 468x60

Jika sampai menampakkan warna kulit maka batal, dan apapun kondisinya seorang wanita muslimah tidak pantas shalat dengan menggunakan kaos kaki dengan kriteria tersebut di atas. Karena syarat shalat adalah menutup aurat

Sedangkan kaki bagi wanita adalah aurat yang harus tertutup apalagi ketika sedang shalat. Lebih aman lagi jika kaos kaki tersebut tertutup oleh jubah atau mukena. Wallahu a’lam

~~~~~~~

– Benar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa telapak kaki wanita itu bukan aurat di dalam shalat. Akan tetapi telapak kaki wanita di luar shalat adalah tetap merupakan aurat yang tidak boleh dilihat lelaki asing dengan kesepakatan para ulama’.

Makna dari telapak kaki di sini adalah apa yang biasa dimasukkan ke dalam sepatu. Adapun betis maka ia aurat dengan kesepakatan para ulama baik di dalam shalat maupun di luar shalat.

Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang menyatakan bahwa telapak kaki wanita bukan aurat di dalam shalat, dipilih oleh Syaikh Ibnu Utsaimin, beliau menyatakan :

ذهب شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله إلى أن الحرة عورة إلا ما يبدو منها في بيتها ، وهو الوجه والكفان والقدمان ، وقال : إن النساء في عهد الرسول عليه الصلاة والسلام كن في البيوت يلبسن القمص، وليس لكل امرأة ثوبان ، ولهذا إذا أصاب دم الحيض الثوب غسلته وصلت فيه ، فتكون القدمان والكفان غير عورة في الصلاة ، لا في النظر . وبناء على أنه ليس هناك دليل تطمئن إليه النفس في هذه المسألة ، فأنا أقلد شيخ الإسلام في هذه المسألة ، وأقول : إن هذا هو الظاهر إن لم نجزم به ؛ لأن المرأة حتى ولو كان لها ثوب يضرب على الأرض ، فإنها إذا سجدت سوف يظهر باطن قدميها

“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berpendapat bhw wanita merdeka itu aurat kecuali yang biasa tampak darinya ketika ia di dalam rumah yaitu wajah, telapak tangan dan telapak kaki.

Dan beliau menyatakan bahwa para wanita di zaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam,
mereka menggunakan gamis dan tidak semua wanita memiliki dua pakaian. Maka dari itu jika pakaiannya terkena darah haidh mereka mencucinya dan shalat dengan mengenakan pakaian itu.

Sehingga dua telapak tangan dan dua telapak kaki ini bukan aurat di dalam shala , tapi ia aurat jika dipandang lelaki asing.

Dan karena ketiadaan dalil yang menenangkan hati di dalam masalah ini, maka saya mengikuti pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam masalah ini.

“Dan aku katakan ini adalah pendapat yang tampak jika kita tidak memastikan kebenarannya. Karena wanita itu meskipun ia mengenakan pakaian yang panjang sampai ujungnya menyentuh tanah, ketika ia bersujud, maka akan tampaklah telapak kakinya.”
(Asy-Syarhul Mumti’ : 2/161).

• Namun demikian kami meyakini bahwa pendapat yang rajih telapak kaki wanita itu aurat di dalam shalat yang harus ditutupi.

• Kewajiban menutup telapak kaki ketika shalat ini merupakan pendapat jumhur/mayoritas ulama. Ia dipilih pula oleh Imam Al-Auza’i, Imam Abu Tsaur, Imam Ibnul Mundzir, Imam Malik, demikian pula Imam Asy-Syafi’I, beliau menyatakan :

وعلى المرأة أن تغطي في الصلاة كل ما عدا كفيها ووجهها

“ Wajib bagi wanita untuk menutup seluruh badannya ketika shalat kecuali dua telapak tangan dan wajahnya.”
(Al-Umm : 2/199).

Imam Ibnu Abdil Barr juga menyatakan pernyataan serupa :

وأقل ما يجزئ المرأة الحرة ما يواريها كلها إلا وجهها وكفيها … واختلف في قدم المرأة فقيل هي عورة وقيل هي ليست بعورة والأول أصح و هو قول مالك

“Pakaian minimal yang dikenakan oleh wanita yang merdeka (bukan budak-pent) adalah apa yang bisa menutupi seluruh badannya, kecuali wajah dan dua telapak tangan.
Dan para ulama berselisih pendapat tentang kedua telapak kaki wanita. Ada yang menyatakan ia aurat, ada yang menyatakan ia bukan aurat. Pendapat yang pertama yang lebih benar dan ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Imam Malik.”
(Al-Kafi Fil Fiqhi Ahlil Madinah : 63/64).

• Di antara dalil yang dipakai dalam masalah ini adalah firman Allah Ta’ala :

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS An-Nur : 31).

Syaikh Al-Albani menyatakan ketika menjelaskan makna ayat ini :

هذا نص على أن الرجلين والساقين مما يخفى ولا يحل إبداؤه ويشهد لهذا من السنة حديث ابن عمر -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة”، فقالت أم سلمة: فكيف يصنع النساء بذيولهن؟ قال : يرخين شبرًا فقالت إذن تنكشف أقدامهن قال : يرخينه ذراعًا لا يزدن عليه أخرجه الترمذي 3 / 47 وقال هذا حديث حسن صحيح

“Ini menjadi dalil bahwasanya kedua termasuk yang tertutup dan tidak halal untuk ditampakkan. Hal ini dikuatkan oleh sunnah dari riwayat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma ia berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda ; “Barangsiapa menjulurkan kainnya dengan sombong, maka Allah tidak akan melihat dia pada hari kiamat.”

Ummu Salamah radhiyallahu anha lantas berkata ; “Apa yang dilakukan wanita dengan ujung pakiannya ?”.

Nabi menjawab ; “Lebihkanlah satu jengkal !”

Ummu Salamah menimpali : “Jika demikian telapak kakinya akan tersingkap”.

Beliau lantas berkata : “Lebihkanlah satu hasta dan jangan lebih dari itu !”
(HR Tirmidzi : 3/47 dan beliau berkata hadits hasan shahih). (Jilbab Mar’ah Muslimah : 80).

Di dalam lokasi yang lain beliau menyatakan juga :

قلت وفي الحديث دليل على أن قدمي المرأة عورة، وأن ذلك كان أمرا معروفا عند النساء في عهد النبوة، فإنه لما قال صلى الله عليه وسلم جريه شبرا، قالت أم سلمة إذن تنكشف القدمان مما يشعر بأنها كانت تعلم أن القدمين عورة لا يجوز كشفهما، ولذلك أمرها صلى الله عليه وسلم أن تجره ذراعا. وفي القرآن الكريم إشارة إلى هذه الحقيقة، وذلك في قوله تعالى ولا يضربن بأرجلهن ليعلم ما يخفين من زينتهن

“Aku katakan di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa dua telapak kaki wanita itu aurat. Dan bahwasanya hal ini sudah sangat ma’ruf di kalangan para wanita di zaman kenabian.
Karena sesungguhnya ketika Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan ; “Lebihkanlah satu jengkal.”
Ummu Salamah menimpali ; “Jika demikian telapak kaki akan tersingkap.”
Menjadi tanda bahwa Ummu Salahamah mengetahui bahwa kedua telapak kaki merupakan aurat yang tidak boleh terlihat. Maka dari itu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerintahkannya untuk melebihkannya sehasta.
Dan di dalam Al-Qur’anul Karim terdapat isyarat terhadap hakikat ini :

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ

“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS An-Nur : 31).
(Silsilah Ahadits Ash-Shahihah : 1/828 hadits no.460).

• Adapun ulama zaman ini selain Syaikh Al-Albani yang juga memilih pendapat bahwa kedua telapak kaki wanita merupakan aurat di antaranya adalah Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz. Beliau berkata :

فهذا هو المعتمد في هذا الباب: أن المرأة عليها أن تستر بدنها كله ما عدا وجهها وكفيها، والصحيح أن الكفين لا يجب سترهما في الصلاة لكن سترهما أفضل، خروجاًَ من خلاف من أوجب سترهما، وأما القدمان فالواجب سترهما عند جمهور أهل العلم؛ لأن المرأة عورة وهما من العورة ولا
داعي إلى كشفهما، تسترهما بالجورب الجوربين، أو بالملابس الطويلة التي تستر القدمين حال الصلاة

“Inilah pendapat yang kuat dalam bab ini bahwasanya seorang wanita memiliki kewajiban untuk menutupi seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Pendapat yang shahih kedua telapak tangan tidak wajib ditutup ketika shalat.
Akan tetapi jika ditutup, maka itu lebih utama sebagai bentuk sikap keluar dari perselisihan dengan orang yang mewajibkan untuk menutupnya.

Adapun kedua telapak kaki yang wajib adalah menutupnya menurut mayoritas para ulama. Karena wanita itu adalah aurat dan kedua telapak kaki juga aurat dan tidak ada kebutuhan untuk menyingkapnya. Hendaknya ditutup dengan kaos kaki, atau pakaian yang panjang yang menutup kedua telapak kaki ketika shalat.”
(Fatawa Syaikh Bin Baz no. 5929).

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Abul Aswad Al Bayati فظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

(Visited 25 times, 1 visits today)
Film Bioskop Online
Tags:
author
Author: