Empat Hal Penting Dalam Memahami Takdir ALLAH

No comment 43 views
banner 468x60

Iman kepada takdir, memiliki kedudukan yang penting dalam agama kita bahkan dia menjadi salah satu dari 6 rukun iman yang mesti diyakini oleh setiap muslim. Segala sesuatu yang terjadi adalah dengan takdir Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ ﴿٤٩﴾آ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir (QS. Al-Qamar: 49)

Dan firman Allah Ta’ala

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى ﴿١﴾ الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ ﴿٢﴾ وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ ﴿٣﴾آ

Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan takdir (masing-masing) dan memberi petunjuk. (QS. Al-A’laa : 1-3)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits ketika datang Malaikat Jibril menyerupai wujud manusia dan bertanya kepada beliau tentang apa itu Iman? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. (HR Muslim no. 8)

Bahkan iman kepada takdir ini pada hakikatnya adalah cabang dari keimanan kepada Allah, karena takdir merupakan salah satu kekuasaan Allah Ta’ala. Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Takdir itu adalah kekuasaan Allah, barang siapa ingkar kepada takdir maka dia mendustakan kekuasaan Allah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al–Ibanah Al–Kubra, 4/131)

Namun banyak orang yang tidak paham, bahkan bingung dengan takdir Allah. Selain karena keterbatasan ilmu, banyak juga perkataan-perkataan yang tidak benar tentang masalah takdir. Dalam artikel ini akan dibahas 4 hal penting yang merupakan komponen Iman kepada takdir yang dengannya seorang muslim insya Allah akan lebih mudah dan lebih lurus memahami takdir.

Pertama, Al-Ilmu (Ilmu)

Segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah, dan takdir Allah terjadi dengan ilmu yang ada pada Allah. Ilmu Allah ini tidak sama seperti ilmu manusia. Ilmu Allah kekal (abadi) dan tidak didahului oleh kebodohan atau ketidaktahuan (azali). Meyakini ilmu Allah artinya meyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui:

[1]. Apa yang telah terjadi
[2]. Apa yang sedang terjadi
[3]. Apa yang akan terjadi
[4]. Apa yang akan terjadi apabila tidak terjadi menjadi kenyataan.

Allahu akbar! Betapa luasnya ilmu Allah dan berapa dangkalnya ilmu manusia ini.

وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا

Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. (QS. Al-An’am : 80)

Kedua, Al–Kitabah (Penulisan)

Allah mengetahui segala yang terjadi di alam kemudian Allah menuliskan di Lauhil Mahfuzh takdir segala sesuatu yang akan terjadi di alam semesta ini, sampai hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ﴿٥٢﴾ وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُّسْتَطَرٌ ﴿٥٣﴾آ

Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan, Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. (QS. Al-Qamar : 52-53)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam sebuah hadits mengenai penulisan takdir ini, Nabi bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمُ، فَقَالَ لَهُ : اكْتُبْ فَجَرَى بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الْأَبَدِ

Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah Al–Qalam (pena). Allah berkata kepadanya, “Tulislah!”. Dia pun bertanya, “Wahai Rabbku, apa yang mesti kutulis?” Allah menjawab, “Tulislah tentang takdir, tentang apa yang akan terjadi sampai hari kiamat.” (HR Tirmidzi 3319, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Ketiga, Al–Masyi-ah (Kehendak)

Allah mengetahui apa yang terjadi dan akan terjadi di alam semesta, Allah pun telah menuliskannya di Lauhul Mahfuzh. Kemudian takdir tersebut akan terwujud ketika Allah menghendaki hal tersebut terjadi. Maka semua yang terjadi adalah kehendak Allah Ta’ala, semua makhluk adalah makhluk-Nya, semua kerajaan adalah kerajaan-Nya dan tidak ada satu pun yang terjadi pada kerajaan-Nya melainkan karena kehendak Allah.

Allah Ta’ala berfirman mengenai kehendak-Nya ini:

لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ ﴿٢٨﴾ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّـهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ ﴿٢٩﴾آ

(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (QS. At-Takwir : 28-29)

Imam Syafi’i pernah berkata tentang kehendak Allah ini:

مَا شِئْتَ كَانَ وَإنْ لَمْ أَشَأْ وَمَا شِئْتُ إِنْ لَمْ تَشأْ لَمْ يَكُنْ

Apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi walau aku tak menghendakinya.
Dan apa yang kukehendaki, tak kan terjadi jika Engkau tak menghendakinya.
(Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Manaqib Asy–Syafi’i, 2/109)

Keempat, Al–Khalq (Penciptaan)

Allah mengetahui takdir di alam semesta ini, Allah menuliskannya, Allah pun menghendakinya, kemudian Allah sendiri yang menciptakannya. Maka segala sesuatu yang ada di alam ini adalah makhluk Allah Ta’ala, termasuk manusia dan apa yang diperbuat manusia adalah makhluk Allah.

Allah berfirman:

اللَّـهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ ﴿٦٢﴾آ

Allahlah pencipta segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (QS. Az-Zumar: 62)

Allah juga berfirman

وَاللَّـهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ ﴿٩٦﴾آ

Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (QS. Ash-Shaffat : 96)

Demikianlah empat hal yang penting diketahui untuk memahami takdir. Kita beriman bahwa Allah mengilmui segala sesuatu, Allah menuliskan segala sesuatu, Allah menghendaki segala sesuatu, dan Allah pula yang menciptakan segala sesuatu. Dengan memahami keempat hal ini, pemahaman kita tentang takdir akan semakin lurus. Wallahu a’lam.

Referensi: Ta’liq ‘ala Syarhis Sunnah lil Muzani, Syaikh Prof. Abdurrozaq bin Abdul Muhsin Al–Abbad

(Visited 14 times, 1 visits today)
Film Bioskop Online
author
Author: