HERAN, Pakai Atribut Natal Mau. Pakai Hijab Bilangnya Nanti

Islam punya prinsip untuk tidak mencampuri perayaan non muslim. Inilah yang termaktub dalam ayat,
“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS. Al Kafirun: 6).

‘Adi bin Hatim pernah berkata bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di lehernya terdapat salib dari emas. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
“Wahai ‘Adi buang berhala yang ada di lehermu.” (HR. Tirmidzi no. 3095, hasan menurut Syaikh Al Albani)

Kita tahu bahwa ‘Adi bin Hatim dulunya adalah seorang Nashrani. Sehingga masih ada bekas-bekas agamanya yang dulu. Wajar ketika itu beliau masih menggunakan salib. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suruh melepas simbol agama Nashrani tersebut. Kalau itu bukan simbol agama Nashrani, mengapa dikenakan menjelang dan untuk memeriahkan natal?

Tentu hal yang sama akan diberlakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika melihat pegawai, karyawan, pelayan dan pengemudi muslim mengenakan simbol Nashrani berupa topi santa klaus atau sinterklas. Karena kita umat Islam pun setuju, itu bukan simbol agama Islam.

Bagaimana jika paksaan? Sengguhnya pekerjaan di muka bumi itu banyak. Jika harus keluar dari pekerjaan seperti itu, pasti Allah akan beri ganti yang lebih baik. Karenanya jangan sampai kita menggadaikan agama kita untuk hal yang akan dimurkai Allah azza wa jalla.

“Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘azza wa jalla, melainkan Allah mengganti dengan yang lebih baik” (HR. Ahmad 5: 78, sanad shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

(Visited 22 times, 3 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *