Hukum Membawa Anak ke Masjid

No comment 146 views
banner 468x60

Pendapat ulama tentang membawa anak ke dalam masjid.

1. Malik bin Anas Rahimahullah ketika ditanya tentang anak yang dibawa ayahnya ke masjid, beliau menjawab, ‘Jika tidak bermain dan mengganggu orang lain, maka aku melihat perkara ini dibolehkan.’

2. Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata, ”Hadits ini sebagai dalil bagi madzhab Asy-Syafi’i rahimahullah dan yang epakat dengannya bahwasannya diperbolehkan untuk membawa anak baik laki-laki dan perempuan serta hewan yang suci dalam shalat fardhu dan shalat sunnah, baik ia seorang imam, makmun, atau orang yang shalat sendirian (munfarid)”. (Syarah Shahih Muslim lin-Nawawi).

3. Pendapat Asy-Syaukani dalam kitab Nailul al-Author 5/48, “Hadits ini (HR. Al-Bukhari no. 666 dan Muslim no. 723) menunjukkan diperbolehkannya memasukkan anak ke dalam masjid.”

4. Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah ketika ditanya mengenai hukum membawa anak ke dalam masjid, ‘Aku berpendapat bahwa membawa anak yang sering mengganggu jamaah lainnya tidaklah diperbolehkan. Karena perbuatan semacam ini mengganggu jamaah lainnya yang sedang menunaikan ibadah. Beliau baru memperbolehkan membawa anak ke masjid jika anak tersebut sudah mumayyiz, artinya sudah mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk atau sekitar usia 7 tahun. (disadur secara singkat dari Liqo Maftuh, 8/125 dan Fatawa
Islamiyah 2/8)

5. Fatwa Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah, beliau berkata, ”Jika memungkinkan berada di rumah ini lebih baik, supaya tidak mengganggu orang yang shalat. Jika tidak bisa, karena dia ingin shalat bersama orang lain, atau senang mendengarkan kajian, dan khutbah maka tidak mengapa baginya untuk ikut ke masjid.

Di kesempatan yang lain beliau mejawab, “Hal ini perlu diperinci. Jika anak sudah mencapai usia tujuh tahun, maka hendaknya dia diperintah untuk shalat dan ditemani ayah atau saudaranya sehingga ia terbiasa shalat dan menjaganya. Namun jika anak tersebut dibawah usia tujuh tahun, maka tidak perlu anak diajak ke masjid, karena terkadang dia akan menggangu orang-orang yang shalat, berbuat gaduh dengan bermain dan berbicara, dengan demikian hendaknya anak seperti itu tidak diajak ke masjid.”

6. Pendapat Syaikh Nasiruddin Al-Albani Rahimahullah: Dalam hadits-hadits ini terdapat dalil bolehnya memasukkan anak ke masjid-masjid, walaupun mereka masih kecil dan masih tertatih saat berjalan, walaupun ada kemungkinan mereka akan menangis keras, karena Nabi –shallallahu alaihi wasallam– menyetujui hal itu, dan tidak mengingkarinya, bahkan beliau mensyariatkan untuk para imam agar meringankan bacaan suratnya bila ada jeritan bayi, karena dikhawatirkan akan memberatkan ibunya.

Mungkin saja hikmah dari hal ini adalah untuk membiasakan mereka dalam ketaatan dan menghadiri shalat jamaah, mulai sejak kecil. Karena sesungguhnya pemandangan-pemandangan yang mereka lihat dan dengar saat di masjid -seperti: dzikir, bacaan qur’an, takbir, tahmid, dan tasbih- itu memiliki pengaruh yang kuat dalam jiwa mereka, tanpa mereka sadari. Pengaruh tersebut, tidak akan -atau sangat sulit- hilang saat mereka dewasa dan memasuki perjuangan hidup dan gemerlap dunia.

Dan sepertinya Ilmu psikologi modern, menguatkan kenyataan bahwa anak kecil itu bisa dipengaruhi oleh apa yang didengar dan dilihatnya. Adapun anak yang sudah besar, maka terpengaruhnya mereka dengan hal-hal tersebut sangatlah jelas dan tak terbantahkan.

Hanya saja bila ada diantara mereka yang bermain dan berlari-lari di masjid, maka wajib bagi bapaknya atau walinya untuk mengambil tindakan (menghukumnya) dan mendidiknya atau wajib bagi petugas dan pelayan masjid untuk mengusir mereka. Seperti inilah praktek kisah yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir: “Dahulu Umar bin Khaththab Radhiallahu ‘anhu bila melihat anak-anak bermain di masjid, memukuli mereka dengan pecut, dan setelah Isya’ beliau memeriksa masjid, sehingga tidak menyisakan satu orang pun. (Tsamarul Mustathob 1/761)

Kesimpulan :

Kesimpulan dari pendapat di atas, bahwa membawa anak ke dalam masjid diperbolehkan, hanya saja hendaknya orang tua untuk memperhatikan kondisi anak, jika memungkinkan ia mampu untuk diam tidak mengapa untuk di bawa ke masjid, namun jika di bawa ke masjid membuat kegaduhan dan menghilangkan kekhusyuan, sebaiknya anak tetap di rumah sampai anak itu paham dan mengetahui adab-adab masjid. Itulah kenapa di dalam islam shalat sunnah bagi laki-laki lebih utama di dalam rumah, agar anak bisa meniru kebaikan ayahnya, karena hal yang paling mudah dalam mendidik anak adalah dengan keteladanan. Wallahu A’lam

Disusun Oleh:
Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA. حفظه الله

(Visited 48 times, 1 visits today)
Film Bioskop Online
author
Author: