Lima Amalan Yang Paling Disukai Para Sahabat

No comment 72 views
banner 468x60

Para sahabat Rasulullah ridhwanullahi ‘alaihim adalah genarasi terbaik umat, generasi yang telah Allah pilih sebagai pendamping Nabi–Nya. Mereka digelari oleh Allah sebagai khairul ummah. Merekalah sebaik-baik generasi setelah para Nabi dan Rasul. Allah ta’ala menyifati mereka dalam banyak ayat–Nya, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran 2: 110)

Para sahabat adalah sebaik-baik manusia yang mengambil ilmu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mereguk ilmu dari telaga yang masih murni tanpa campuran apapun. Dalam amaliyah pun mereka selalu berkiblat pada Rasulnya, meraka tidak menambah ataupun mengurangi tuntunan yang telah mereka pelajari, mereka tidak seperti orang-orang belakangan yang banyak menambal sulam agama mereka.

Tokoh tabi’in Imam Al Auza’i menjelaskan bahwa ada lima amaliyah yang selalu melekat pada diri para sahabat Rasulullah radhiyallahu ‘anhum. Lima perkara yang selalu ada dan senantiasa dilakukan oleh para sahabat yaitu: melazimi jamaah, mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca Al Qur’an, dan berjihad di jalan Allah. (Syarhus Sunnah Imam Al Baghawi, 1/209)

Kelima amaliyah tersebut menjadi ujung tombak para sahabat dalam kehidupan mereka, sehingga kita dapati mereka adalah sebaik-baik generasi yang ada di muka bumi, kelima amaliyah itu adalah:

1. Melazimi jamaah

Para sahabat adalah manusia yang saling terkait dalam satu insitusi jamaah. Mereka tidak berkelompok-kelompok mereka hanya mengenal pimpinan yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelahnya Khalifatur Rasyidin dan seterusnya. Mereka tidak membuat-buat kelompok-kelompok yang suka memecah umat, lalu dengan kelompok itu ia berbangga karena memiliki nama besar dan pengaruh pada umat. Mereka adalah kaum yang telah Allah muliakan di muka bumi setelah para Nabi dan Rasul.

2. Mengikuti sunnah

Secara bahasa sunnah artinya jalan. Menurut istilah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa perkataan, perbuatan, sifat-sifatnya dan persetujuannya. Para sahabat pun sangat perhatian dalam masalah ini.

Segala macam ibadah yang kita lakukan apapun itu bentuknya haruslah mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah, sebab syarat diterimanya amalan seseorang adalah harus memenuhi dua syarat yaitu ikhlas karena Allah dan mengikuti Rasulullah. Karena barang siapa yang beramal tanpa ada tuntunan dari Rasullah maka amalan itu tertolak sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang mengerjakan amalam tanpa ada dasar tuntunan dari kami maka amalan tersebut tertolak(tidak diterima)” (HR. Muslim no. 1718)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata: Hadits ini adalah pokok (pondasi amal) yang sangat agung di antara pokok-pokok Islam, ia merupakan timbangan terhadap lahiriyah seluruhh amal, sebagaimana hadits “Seluruh amal tergantung pada pada niatnya” yang merupakan timbangan seluruh amal secara batin. Seluruh amal yang tidak diniatkan untuk wajah Allah maka tidak ada pahala bagi orang yang mengamalkannya, demikian pula halnya dengan seluruh amalan yang tidak berdasarkan perintah Allah dan RasulNya maka amalan itu tertolak atas pelakunya. (Jamiul ‘Ulum Wal Hikam)

Maka jika kita ingin dikatakan sebagai umatnya Rasulullah, haruslah mengikuti sunnahnya, bukan malah anti bahkan phobia (takut) terhadap sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan juga sebaliknya yaitu menambah dan mengurangi dengan amalan-amalan yang tidak pernah beliau contohkan.

3. Memakmurkan masjid

Dengan amaliyah ini masjid akan menjadi makmur dan terisi oleh ibadah-ibadah yang disyariatkan. Namun berapa banyak pada saat ini masjid-masjid tidak makmur, shalat ke masjid pun terasa berat bahkan berapa banyak masjid yang terisi oleh ibadah-ibadah dan ritual-ritual nyeleneh? Maka bagaimana mungkin kemakmuran masjid akan tercapai?

Padahal, memakmurkan masjid adalah amaliyah yang begitu dicintai oleh Allah dan RasulNya. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah 9: 18)

4. Membaca Al Qur’an

Tahukah anda? Para sahabat adalah orang-orang yang selalu akrab dengan Al Qur’an, tiada hari mereka lewati tanpa membaca Al Qur’an. Kita akan merasa nikmat hidup di bawah naungan Al Qur’an mana kala kita membersihkan noda-noda kemaksiatan di dalam hati kita. Sehingga kesucian dan kejernihan hati pun akan diraih. Tentu saja tanda seseorang yang mencinta adalah ia sangat menyukai kalam yang dicintai. Sehingga diibaratkan dalam sebuah syair:

Jika engkau mengaku mencintai-Ku, janganlah engkau tinggalkan kitab-Ku (Al-Qur’an)
Saat engkau merenungkan kitab-Ku, engkau akan rasakan lezatnya kalimat-Ku di dalamnya.

‘Utsman bin ‘Affan pernah mengutarakan, “Seandainya hati kita bersih, tentu kita tidak akan pernah puas bersama Al-Qur’an (kalamullah). Sungguh aneh, bagaimana seseorang bisa puas mendengar kalimat indah dari yang ia cintai.” (Al-Jawab Al-Kafi, hal. 170)

5. Jihad di jalan Allah

Jihad adalah salah satu dari tiang agama, tanpanya pula agama ini tidak akan mampu tegak. Para sahabat menyadari betul islam adalah rahmatan lil ‘alamin namun hal ini tidak terwujud seandainya dakwah islam tidak dikawal dengan jihad. Begitulah kehidupan para sahabat yang juga terhiasi dengan jihad fii sabilillah.

Dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat, sampai Allah sebagai satu-satunya sembahan tidak ada kesyirikan baginya dan dijadikan rizki dibawah bayangan tombakku.” (HR. Ahmad)

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Kalaulah bukan karna tiga hal, aku lebih suka menemui Allah (Mati),

1. Kalau aku tidak diberi kesempatan jihad di jalan Allah,
2. Aku letakkan keningku di atas tanah dalam keadaan sujud,
3. Aku duduk bergaul dengan suatu kaum sehingga mendapatkan perkataan yang baik seperti mendapatkan buah yang lezat.

Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata,

إِنَّ أَفْضَلَ الْعَمَلِ بَعْدَ الصَّلَاةِ اَلْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى

“Sesungguhnya seutama-utama amal sesudah shalat adalah jihad di jalan Allah Ta’ala.” (HR. Ahmad (II/32) dengan sanad yang shahih. Lihat Musnad Ahmad (no. 4873) dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (III/477))

Para sahabat adalah orang-orang mulia setelah Nabi dan Rasul, sudah sepantasnya bagi kita untuk mengikuti mereka, karena dengan mengikuti mereka merupakan jalan keselamatan, sedangkan menyelisihi mereka adalah jalan kebinasaan.

 

Ditulis Oleh:
Ustadz Saryanto Abu Ruwaifi’
(Kontributor Bimbingan Islam)

(Visited 26 times, 1 visits today)
Film Bioskop Online
author
Author: