Pria Kaya Ini Cari Sahabat Sejatinya di Acara Reunian Dengan Berpura pura Miskin. Ternyata …… ???

banner 468x60

Pada suatu sore di hari libur, seorang sahabat mengajak saya menemaninya ke toko spare parts.

Saya dengan rela hati menemaninya lalu kami pergi ke kota Klang.

Usai membeli barang yang diinginkan, dia mengajak saya mengikutinya ke acara reunian teman sekolahnya dulu.

Tentu saja saya rasa keberatan karena saya tidak mengenali siapa di situ.

Selanjutnya pada saat itu saya berpakaian agak selekeh.

Namun dia tetap mendesak saya mengikutinya membuat saya tidak ada pilihan karena saya menumpang mobilnya.

Dia berjanji, perjumpaan itu hanya sebentar saja.

Di restoran berpenyejuk udara itu, beberapa sahabat lamanya sudah mulai datang dan berbicara di dalam kelompok-kelompok kecil.

Di luar, ada deretan mobil-mobil mewah.

Dia masuk menemui mereka dan bertegur sapa.

Rata-rata mereka sudah lama tidak bertemu atau bertegur sapa secara langsung sudah berpuluh tahun.

Saya pula turut bersalam dan diperkenalkan sebagai keponakannya.

Ketika ditanya tentang istri dan anak-anak, sahabat saya menyatakan bahwa istri dan anaknya terpaksa menghadiri sedekahan tetangga sebelah rumah.
Saya hanya menjadi pengamat di acara itu sambil menghabiskan makanan yang terhidang.

Saya dapat perhatikan sahabat-sahabat satu sekolah ini terbagi menjadi berbagai kelompok.

Ada kelompok guru, businessman, staf pemerintah, ibu rumah dan penyendiri.

Sahabat saya disambut hambar oleh sahabatnya yang berstatus, mereka sekadar jabat tangan dan chatting menyapa diri, keluarga, pekerjaan dan mobil yang dipakai.

Ya, itulah pertanyaan yang ditanya oleh rata-rata mereka di acara tersebut.

“Woi! Kau pakai mobil apa sekarang?”

Saya yang mendengar turut terasa jengkel. Ini reuni sahabat sekolah atau perjumpaan untuk pamer mobil?

Lebih memualkan ketika ada sahabatnya yang terang-terang bercerita tentang bisnisnya yang besar, menikah dua, membeli berbagai properti, ada berbagai mobil mewah dan sering bepergian ke luar negeri.

Sahabat saya hanya banyak tersenyum dan menganggukkan kepala.

Dua jam berlalu, sahabat saya mengajak saya pulang.
Dia menemui sahabatnya yang lain dan memberitahu terpaksa pulang untuk bergabung dengan istrinya di sedekahan tetangga rumah mereka.

Rata-rata hanya bersalam dan kemudian terus berpaling mengobrol dengan sahabat yang lain, mengabaikan sahabat saya lagi.

Hanya ada dua orang sahabatnya saja yang mengatarnya pulang hingga ke parkiran mobil.

Salah seorang adalah direktur lembaga pemerintah dan seorang lagi pengusaha.

Mereka masih mengobrol. Mereka berkekek tertawa bercerita tentang peristiwa berburu burung, mencari ikan puyu di rawa dan dikejar tetangga setelah mencuri durian.

Saat akan berpisah, saya lihat mereka berpelukan mesra dan saling bermaafan.

Air mata mengalir di pipi masing-masing.

Di dalam mobil, saya bertanya pada sahabat saya itu, kenapa dia tidak berpakaian cantik dan membawa mobil mewahnya?

Dia memiliki mobil BMW, Mercedes, Honda, Toyota Hilux dan beberapa lagi mobil mewah yang lain.

Tapi Proton Wira yang sudah lawas ini juga dibawanya.

“Memang saya sengaja. Saya nak melihat perangai sebenar sahabat-sahabat saya yang dahulu makan sepiring dan susah senang bersama,”

“Jadi akhirnya saya tahu saya sebenarnya hanya ada dua sahabat yang masih menganggap saya teman dekat mereka. Sahabat tanpa syarat.” katanya.

Saya diam dan termenung sendiri. Saya sadar bahwa rumah hanya tempat berteduh, mobil hanya alat transportasi, pakaian hanya alas diri.

Kita mampu memiliki dan mengganti semuanya itu setiap saat tergantung pada kemampuan dan pilihan yang ada di tangan kita.

Ternyata harta yang dikumpulkan dalam hidup telah memisahkan banyak persahabatan.

Namun jika hati masih ikhlas bersahabat tanpa syarat, persahabatan akan tetap sampai ke akhir hayat.

(Visited 49 times, 1 visits today)
Film Bioskop Online
author
Author: